Ganesha Abadi –
Kejujuran yang Menyakitkan
Di sebuah grup WhatsApp Ikatan Alumni Masjid Gundul, Mas Haris pada Rabu (27/8/2025) membagikan tulisan Pak Guru Andrimar. Isinya penuh keprihatinan, namun jujur. Dan memang, kadang kejujuran terasa menyakitkan.
Pak Guru Andrimar yang mengajar di SLTP menulis:
“Kami para guru jadi budak dalam program ini. Kami membagikan makanan, menghitung, mengembalikan rantang. Tidak dibayar. Kalau rantang hilang, kami yang ganti. Bahkan ada kepala daerah yang bilang guru harus mencicipi makanan MBG dulu. Kami ini apa? Tumbal racun? Tikus laboratorium?”
Tulisan itu membuat saya merenung. Guru — profesi yang katanya mulia — justru sering menjadi pelengkap penderita. Jika ada program baru, guru yang paling dulu diminta jalan. Jika gagal, guru disalahkan. Jika berhasil, pejabat yang naik panggung.
Menilik dari Sisi Khidmah
Namun, saya tidak ingin sekadar menyalahkan. Saya ingin mengajak melihat dari sisi lain: khidmah.
Saya teringat dawuh Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki:
“Pelajar yang banyak berkhidmah lebih baik daripada pelajar yang banyak belajar.”
Awalnya, saya tidak paham. Bukankah tugas pelajar itu belajar? Tapi Abuya mengajarkan bahwa khidmah adalah pintu keberkahan. Bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan adab, cinta, dan pelayanan.
Pengalaman di Program MB
Saya sendiri pernah ikut program MBG di SPPG Khusus Pesantren sejak 6 Januari 2025. Saya turun langsung ke sekolah-sekolah. Para guru menyambut dengan gembira. Murid-murid piket dengan senang hati mengambil makanan, membagikan ompreng, lalu mengumpulkan kembali. Tidak ada keluhan. Tidak ada ratapan. Justru yang ada adalah semangat.
Saya pun teringat masa 1999. Di sekolah tempat saya berkhidmah, murid SD, SMP, hingga SLTA sudah terbiasa mengambil makanan ke dapur dan mencuci piring sendiri. Tidak ada yang merasa jadi budak. Mereka merasa sedang belajar: belajar melayani, belajar bertanggung jawab, belajar hidup.
Itulah pendidikan sejati. Itulah tarbiyah.
Jangan Kehilangan Makna
Saya sepakat, program MBG tetap harus dimanusiakan. Harus ada sosialisasi. Jangan sampai guru diposisikan sebagai tumbal atau “tikus laboratorium.” Tapi, di sisi lain, jangan sampai kita kehilangan makna khidmah.
Karena seperti dawuh Abuya:
“Keberkahan ilmu diperoleh melalui khidmah, sedangkan manfaat ilmu didapat dari ridha guru.”
Guru yang berkhidmah akan melahirkan murid yang beradab. Murid yang berkhidmah akan tumbuh menjadi manusia yang tahu diri.
Dan bangsa yang tahu diri tidak akan kelaparan, tidak akan kehilangan arah, serta tidak akan kehilangan guru.
(Red)








