Lubuklinggau – Menjelang bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah, masyarakat Kota Lubuklinggau mulai mengkhawatirkan kelangkaan dan lonjakan harga gas elpiji subsidi jenis melon. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama bagi warga yang bergantung pada gas bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
Menanggapi hal tersebut, Ferry Isrop, seorang mahasiswa Hukum Tata Negara asal Bumi Silampari, memberikan pandangannya. Saat ditemui pada Kamis (27/2/2025) di sela kesibukannya melakukan penelitian skripsi di Kecamatan Lubuklinggau Utara I, ia menyoroti pentingnya pengawasan dalam distribusi gas melon agar tidak terjadi penyimpangan.
“Kami meminta kepada pihak berwenang, terutama Pemerintah Kota Lubuklinggau dan Kepolisian, untuk meningkatkan pengawasan dalam penyaluran gas elpiji bersubsidi. Mulai dari distribusi di agen hingga ke pangkalan, harus dipastikan sesuai dengan regulasi agar gas bersubsidi benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak,” ujar Ferry.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan jika mengalami kesulitan mendapatkan gas elpiji subsidi atau menemukan harga yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Jika ada keluhan terkait kelangkaan atau harga gas bersubsidi yang tidak sesuai, segera laporkan ke RT, kelurahan, atau bahkan ke pihak kepolisian jika diperlukan,” tambahnya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat setiap menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, permintaan gas elpiji bersubsidi meningkat tajam. Oleh karena itu, pengawasan ketat dari pihak terkait sangat diperlukan agar tidak ada oknum yang memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi.
(Erwin Kaperwil Sumsel, Lubuklinggau, Musi Rawas)








