Surabaya – Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) kembali menghadirkan pertunjukan seni bertajuk “Kota & Kesenian” yang digelar pada Senin, 16 Juni 2025 mulai pukul 19.00 WIB di pelataran Dewan Kesenian Surabaya, Komplek Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo No. 15 Surabaya. Pertunjukan ini terbuka untuk umum dan gratis.
Setelah sukses dengan pertunjukan perdana bertema “Surabaya Hari Ini” pada Mei lalu, kali ini FPKS menghadirkan komposisi kolaboratif lintas disiplin seni—mulai dari musik, teater, tari, seni rupa, hingga sastra.
Beberapa nama besar yang dipastikan tampil di antaranya Bambang SP, maestro karawitan Jawa Timur, dengan komposisi kolaboratif “Sawunggaling” yang menggabungkan saxophone, drum, dan alat musik pentatonis. Turut hadir Edy Jenggot, pemusik pop yang dikenal dengan sajian lagu-lagu jenaka.
Dari seni rupa, Budi Bi dan Ami Tri akan tampil dengan senirupa pertunjukan yang menggabungkan aksi langsung melukis dan presentasi karya. Di bidang sastra, sesi pembacaan puisi dikomandoi Ribut Wijoto, menghadirkan penyair lintas generasi seperti Don Aryadien, Brigitta Vanessa, Diandra Galuh Puspita, Nihasy Aniqo Dhamar Asyuro, serta Rara & Aji Kelono.

Panggung teater akan diisi oleh Jeremiah Earvin dari Teater Rumpun Padi lewat monolog “Dihadapan Burung Agung”. Sementara Teater Tari disajikan oleh Irfan Gepeng dari Baya Runcing yang akan menampilkan koreografi Benalu, garapan progresif yang menyoroti dinamika sosial kota.
Untuk orasi budaya, budayawan Henri Nurcahyo akan menyampaikan refleksi kebudayaan kota. Henri dinilai memahami secara mendalam dinamika kesenian di Surabaya, baik dari sisi seniman maupun kebijakan kota.
Penggagas FPKS, Jil Kalaran, menyampaikan bahwa pertunjukan ini akan menjadi agenda rutin bulanan dengan tema dan pelaku seni yang bergantian. Ia menyebut, kesenian harus dilibatkan dalam membentuk identitas kota yang inklusif, berdaya, dan berjiwa.
“Kota yang baik bukan yang menghindari konflik antara ekonomi dan budaya, tapi yang mampu mengelolanya dengan adil. Maka dibutuhkan keberanian kebijakan dan solidaritas komunitas agar suara estetika tetap hidup di tengah pembangunan,” tegas Jil.
Selain pertunjukan, FPKS juga menggelar workshop penulisan kreatif berbasis puisi yang berlangsung pada 17 Juni–17 Juli 2025 di ruang Perpustakaan Surabaya, Komplek Balai Pemuda. Hasil karya peserta akan dibukukan dalam bentuk antologi puisi.
(Redho)








