TULUNGAGUNG – Dalam proses pemakaman Ekandri Prasetya yang oleh masyarakat dipanggil Gus Andi pada hari Senin (29/04/2024) di pemakaman Al Azhaar Kedungwaru Tulungagung, Iwan Bastomi dan Dedy Eko dari kota Kediri datang sejam lebih awal. Iwan Bastomi mengisahkan bahwa dirinya merasa sanget kehilangan almarhum. Dia dan istrinya telah sering ditolong almarhum. Dia mengaku sudah lama sekali bergaul dengan almarhum, bahkan seperti saudara sendiri. Karena itulah Iwan Bastomi mampu mengisahkan berbagai hal terkait almarhum.Salah satu yang dinilai oleh Iwan adalahsikap kepasrahan atau tawakal almarhum.
“Keterbatasan fisik Gus Andi tidak menjadikan almarhum patah semangat. Di masa delapan tahun terakhir ini saya selalu bertanya bagaimana dengan keadaan keterbatasan fisik almarhum tidak bisa melihat untuk melayani diri sendiri? Karena memang di lima tahun terakhir ini almarhum hidup sendirian di rumahnya. Siang hari ada pembantu. Malam hari hidup sendiri lagi. Perlu diketahui bahwa semua putra almarhum sudah menikah sehingga tinggal bersama keluarga terpisahnya. Keadaan itulah yang menjadikan pertanyaan saya sulit terjawab. Bagaimana almarhum memenuhi kebutuhan makan pagi hari, siang dan malam hari? Keadaan yang terbatas almarhum tidak mampu masak sendiri. Juga tidak ada kemampuan beli makan sendiri di warung?” kisah Iwan.
Iwan Bastomi yang sering diminta tolong antar jemput ke pasian pakai sepeda motor menuturkan bahwa almarhum sangat pasrah dan memiliki keyakinan sangat tinggi atas pemberian dan pertolongan Alloh Ta’ala.
“Suatu sore, saya mampir ke rumah almarhum. Saya sangat kaget dan kasihan tatkala almarhum berkisah bahw mulai pagi hari hingga sore ini, belum makan. Saya harus pamit untuk keluar. Saya menuju ke warung terdekat. Saya belikan makanan kesukaan almarhum. Yaitu masakan Padang. Saya bawakan makanan ke almarhum. Saat itu almarhum berkata, “alhamdulillah ada rezeki. Semua rezeki sudah diatur Gusti Alloh Ta’ala.” Peristiwa tersebut menjadikan saya harus belajar dengan keyakinan almarhum,” kisah Iwan
Dari peristiwa tersebut Iwan Bastomi berinisiatif untuk menawarkan ke almarhum akan dicarikan cartering yang akan mengantar makanan tiap pagi, siang dan malam. Nah jawaban almarhum sangat mengagetkan, “Om Iwan ndak perlu pesen cartering rutin. Om Iwan ndak perlu repot-repot. Saya seperti ini saja ndak apa-apa. Rezeki itu sudah diatur Alloh Ta’ala. Rezeki kita akan datang sesuai kebutuhan kita,” kisah Iwan.
Senin sore (29/04) ada rombongan dua mobil bertakziyah ke makbaroh Ekandri Prasetya. Satu mobil rombongan Sutrisno, dan yang satunya Sutiyah. Mereka dari Dusun Ngelo Tanggung Gunung Tulungagung. Sutiyah mengisahkan bahwa dirinya setiap ada keluhan sakit selalu ke almarhum.
“Saya sudah divonis oleh rumah sakit harus operasi. Tapi saya pergi dulu menemui almarhum. Almarhum beri resep herbal, didoakan, disuruh rebus dan diminum. Saya tidak jadi operasi. Hingga saat ini masih diberi kesehatan oleh Gusti Alloh Ta’ala. Penyakit yang harus dioperasi tidak ada lagi,” kisah Sutiyah
Salah satu pengasuh pesantren di Gurah Kediri, KH. Sarwani saat takziyah ke Gus Andi, mengisahkan bahwa beliau sering datang ke pesantren beliau sejak awal beliau merintis pesantren.
“Gus Andi pernah ke pesantrenku di saat awal saya merintis. Nahhh saat itu almarhum memegang dinding pesantrenku sambil berkata Insya Alloh nanti pesantren ini akan berkembang pada tahun sekian dan sekian. Lhooo lhaaa khok yaaa pas perkembangan pesantren sesuai yang disampaikan almarhum. Almarhum itu sering nyambangi saya hanya untuk mengabarkan keadaan pesantren bagaimana? Almarhum ini sosok ikhlas. Sangat ikhlas. Semoga amal beliau diterima Alloh Ta’ala dan seluruh khilaf beliau diampuni Alloh Ta’ala”, kisah Abah Sarwani, panggilan akrab KH. Syarwani.
(Red)









read reviews happy customer.