Tulungagung – Ribuan jamaah tumpah ruah di Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, Tulungagung, dalam gelaran Dzikro Maulid Nabi Muhammad ﷺ, sebuah tradisi tahunan yang terus dijaga untuk menghidupkan cinta dan mahabbah kepada Rasulullah.
Sekitar 2.500 jamaah hadir memenuhi hall utama pesantren, bersholawat bersama KH. Nashir Mansur Idris dari Jakarta. Sebagian jamaah larut dalam dzikir dengan mata berkaca-kaca, sebagian lainnya berdiri penuh harap. Tak hanya jamaah fisik, ribuan masyarakat dari berbagai daerah juga mengikuti melalui siaran daring.
Doa Bersama untuk Indonesia Damai dan Makmur
Pengasuh Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, KH. Imam Mawardi Ridlwan, yang juga mendapat amanah di Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur, menegaskan pentingnya menjadikan sholawat sebagai jalan keselamatan.
“Kita doakan bangsa kita damai dan makmur,” ajak Abah Imam dalam tausyiahnya.
Ia menekankan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan ruhani. Para ulama, kyai, dan masyayich memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan bangsa agar tetap teduh dan sejuk.
Pesan Kedamaian dari Ulama
KH. Nashir Mansur Idris dalam kesempatan tersebut juga mengingatkan jamaah bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ selalu mengedepankan kedamaian.
“Ajaran nabi kita itu mengajak damai. Tidak ada kekerasan, apalagi anarkis atau penjarahan,” ungkapnya.
Pesan ini menjadi tamparan halus bagi mereka yang masih percaya bahwa perubahan hanya bisa dilakukan melalui kemarahan. Menurut Kyai Nashir, orang yang bersholawat akan selalu teduh dalam sikap, pilihan, dan dalam menyikapi perbedaan.
Nuansa Hijaz dan Hadirnya Ulama Internasional
Suasana semakin semarak dengan hadirnya Munsyid Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani dari Mekkah, yang membawa nuansa Hijaz ke bumi Tulungagung.
Tak kalah istimewa, hadir pula Habib Muhammad Hasan Al Jufri dari Mukalla, Yaman, pengasuh Al Khairot Institut Mukalla. Kehadirannya menjadi simbol ukhuwah islamiyah dalam khidmah dakwah lintas negara.
Ulama dan Tokoh Hadir
Peringatan Maulid Nabi ini juga dihadiri para ulama dan tokoh daerah, di antaranya:
- KH. Abdul Kholiq (Mbah Dul)
- KH. Baidlowi
- Perwakilan Kemenag Tulungagung
- KH. Salim, KH. Abu Syamsudin, KH. Yik, KH. Yak, Gus Thoha, KH. Ghufron, dan para masyayich lainnya.
Menghidupkan Sunnah dan Mahabbah
Maulid Nabi di Al Azhaar bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi juga menghidupkan sunnah, mahabbah, doa, serta harapan bahwa Indonesia dapat damai tanpa anarkis dan makmur tanpa saling meniadakan.
(Red)










