Banyuwangi – DPRD Kabupaten Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus mengawal percepatan penanganan longsoran di Jalur Gumitir, akses strategis yang menghubungkan Banyuwangi dengan Jember.
Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Ruliyono, menyampaikan bahwa hasil koordinasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali telah membuahkan perkembangan positif.
“Alhamdulillah ada percepatan pengerjaan. Kami mendorong agar jalur strategis ini segera dibuka demi kelancaran ekonomi dan mobilitas masyarakat,” ujar Ruliyono,
Kepala BBPJN Jatim–Bali, Javid Hurriyanto, menambahkan bahwa semula pengerjaan Jalur Gumitir ditargetkan rampung dalam dua bulan, mulai 24 Juli hingga 24 September 2025. Namun, berkat percepatan yang dilakukan, jalur bisa difungsikan lebih awal pada awal September mendatang.
“Target kami, maksimal di minggu pertama bulan September sudah bisa kami buka open traffic. Namun pekerjaan konstruksi tetap berlanjut hingga akhir tahun,” jelas Javid.
Warga Banyuwangi Rasakan Dampak Penutupan
Di balik kabar baik tersebut, masyarakat Banyuwangi tetap merasakan keresahan akibat penutupan Jalur Gumitir beberapa pekan terakhir. Jalur vital ini menjadi satu-satunya akses tercepat menuju Jember maupun kabupaten di selatan Jawa Timur.
“Kalau mau ke Jember sekarang harus memutar ke utara. Ini jelas merepotkan, apalagi bagi pedagang dan sopir truk yang membawa hasil bumi. Biaya perjalanan membengkak,” keluh Tatang, warga Kecamatan Cluring.
Tokoh Masyarakat Ingatkan Soal Keamanan
Tokoh masyarakat Banyuwangi, Slamet, menyambut positif kabar percepatan, namun mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada target waktu.
“Jalur Gumitir ini bukan sekadar akses ekonomi, tapi juga jalur kehidupan bagi warga yang punya urusan kesehatan, pendidikan, hingga keluarga di Jember. Jangan sampai pembukaan jalur hanya formalitas tapi mengabaikan keselamatan,” tegasnya.
Suara Aktivis: Warga Jangan Jadi Korban
Aktivis sekaligus Ketua komunitas sadar hukum Banyuwangi, Sugiarto menilai penutupan Jalur Gumitir telah menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang besar bagi masyarakat.
“Warga sangat terdampak. Penutupan jalur ini membuat biaya transportasi melonjak dan menyulitkan pedagang, petani, hingga warga biasa. Kami mendesak agar pembukaan jalur tidak ditunda lagi, tapi tetap mengutamakan keselamatan,” ujarnya.
Progres Pengerjaan
Hingga kini, progres penanganan longsor di Jalur Gumitir telah mencapai 56 persen. Pekerjaan bore pile sudah rampung, dilanjutkan dengan pemasangan capping beam, pondasi agregat badan jalan, dan tahap pengaspalan.
Selain itu, Tim Audit Keselamatan Jalan (AKJ) dijadwalkan turun pekan ini untuk memastikan kelayakan jalur sebelum difungsikan kembali.
Masyarakat Banyuwangi dan Jember berharap pembukaan jalur pada awal September benar-benar terealisasi, sehingga aktivitas sosial dan ekonomi kembali normal.
(Red)








