Ganesha Abadi – Kasus yang Sering Terulang, Seorang murid saya, peserta program SPPI gelombang tiga, baru-baru ini bertanya lewat WhatsApp. Dengan sopan ia menulis:
> “Bagaimana sikap kami kalau ada mitra BGN minta dana dicairkan, padahal running masih kurang dua hari?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengandung masalah besar. Saya menjawab singkat: “Tidak perlu diikuti, Mas. Sistem di BGN sekarang sudah bagus kok.”
Dari Reimburse ke Virtual Account
Di awal program MBG, 6 Januari 2025, sistem pencairan masih berbasis reimburse. Mitra dapur harus belanja lebih dulu, baru dua pekan kemudian diganti oleh BGN. Sistem itu rawan masalah: tidak rapi, tidak efisien, dan rentan penyalahgunaan.
Kini, semuanya berubah. Dana tidak lagi beredar dalam bentuk tunai, melainkan dikirim langsung melalui virtual account yayasan. Aturannya jelas:
Dana khusus untuk operasional dapur MBG atau SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Dapur tidak boleh beroperasi sebelum memiliki akun virtual.
Pencairan hanya bisa dilakukan oleh perwakilan yayasan dan kepala SPPG.
Sistem ini lebih transparan, aman, dan akuntabel. Proposal disusun di awal, mencakup bahan baku, biaya operasional, hingga insentif. Setelah disetujui, dana masuk sesuai rencana.
Godaan Penyimpangan
Namun, masih ada saja pihak yang mencoba melanggar aturan. Permintaan pencairan dana sebelum waktunya kerap datang dengan berbagai dalih: “darurat,” “tekanan,” bahkan “janji akan mengganti.”
Di sinilah integritas diuji. Kasatpel SPPG dan pengelola yayasan harus tegas: jangan tergoda, jangan takut, jangan kompromi. Karena setiap rupiah yang dicairkan terlalu cepat, bisa berarti ada seorang anak yang kehilangan haknya.
Menolak Demi Tanggung Jawab
Sistem baru BGN hadir bukan sekadar untuk merapikan administrasi, tetapi untuk melindungi hak anak-anak Indonesia mendapatkan gizi seimbang. Setiap prosedur yang dijaga dengan ketat adalah benteng agar dana tidak bocor, agar program tidak disalahgunakan.
Maka, menolak permintaan pencairan sebelum waktunya bukanlah bentuk keras kepala. Justru itulah wujud tanggung jawab tertinggi.
Saya katakan lagi, seperti kepada murid saya:
“Tidak perlu diikuti, Mas. Karena sistem di BGN sudah bagus kok.”
(Red)








