BUAH TANGAN
Tidak semua masa jabatan meninggalkan jejak.
Sebagian hanya meninggalkan keheningan yang rapi, tertata, dan aman bagi semua pihak yang tidak ingin terganggu.
Selama laporan disampaikan, data dijelaskan, dan rekaman tersimpan, tidak ada kegaduhan yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada langkah yang harus diambil. Tidak ada keputusan yang berisiko. Ketika kehati-hatian berubah menjadi kebiasaan, diam pun perlahan dianggap sebagai bentuk profesionalisme.
Ketakutan bukanlah rahasia. Ia pernah diucapkan, di ruang tertutup, dengan suara yang cukup jujur untuk direkam. Takut bertindak, takut salah langkah, takut dimutasi. Maka yang dipilih bukan kebenaran, melainkan keselamatan posisi.
Dan sistem bekerja sebagaimana mestinya.
Tidak ada penyelidikan yang mengganggu stabilitas. Tidak ada proses yang membuka terlalu banyak pintu. Tidak ada warisan penegakan hukum yang berpotensi menimbulkan riak. Yang ada hanyalah kesinambungan, bahwa segala sesuatu tetap berjalan seperti sebelumnya.
Ketika waktu berakhir, tidak ada kasus yang bisa ditunjukkan sebagai legacy. Tidak ada pembongkaran. Tidak ada keberanian. Namun justru di sanalah buah tangan itu terbentuk: sebuah mutasi ke jabatan yang lebih tinggi, sebagai penegasan bahwa kehati-hatian ekstrem bukanlah kegagalan, melainkan kualifikasi.
Dalam sistem ini, keberanian bukan syarat promosi. Integritas tidak tercantum dalam indikator kinerja. Yang diuji hanyalah kemampuan membaca arah angin dan menahan diri untuk tidak bergerak.
Maka pergilah dengan buah tangan itu.
Bukan berupa prestasi, melainkan pelajaran: bahwa pembiaran, jika dilakukan dengan rapi dan tenang, bukanlah penghambat karier, ia justru menjadi tiketnya.
(Red)







