Ganesha Abadi– Pesan Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie di penghujung hidupnya begitu menyentuh dan penuh makna. Ucapannya mengingatkan kita untuk senantiasa merenungi arti kehidupan dan kematian, sebuah kepastian yang tak mengenal usia atau waktu.
Habibie, dengan penuh kebijaksanaan, berpesan, “Teruslah menjadi si penabur kebaikan selama hayat masih dikandung badan, meski hanya sepotong pesan.” Pesan ini menunjukkan bahwa menulis atau berbagi kebaikan adalah pilihan tepat, terutama bagi mereka yang tak memiliki harta melimpah. Sebuah ide atau pengalaman sederhana yang ditulis dengan ikhlas mampu menjadi warisan berharga bagi banyak orang.
Dalam sebuah catatan reflektif yang tersebar luas di media sosial, Habibie mengungkapkan, “Jangan pernah terbuai dengan kehidupan dunia yang bisa melalaikan.” Ia menandai bahwa ilmu agama dan kebaikan bagi sesama adalah sesuatu yang lebih berarti dibandingkan ilmu duniawi sekalipun.
“Dulu saya diberi kenikmatan oleh Allah berupa ilmu teknologi, sehingga saya bisa membuat pesawat terbang. Tapi sekarang, saya sadar bahwa ilmu agama lebih bermanfaat bagi umat. Jika harus memilih, saya akan memilih ilmu agama dan kebaikan,” tulisnya penuh kesadaran.
Habibie mengenang bagaimana hidupnya berubah setelah ditinggalkan oleh sang istri tercinta, Hasri Ainun Besari. Rumah besar yang megah dan nyaman kini terasa sunyi. Penyakit yang telah lama diderita membuatnya semakin lemah, sementara hanya seorang kerabat dan pembantu rumah tangga yang setia menemani.
Anak-anaknya yang sukses secara pendidikan dan karier kini tinggal berjauhan. Beberapa bahkan bekerja di luar negeri, membawa reputasi baik bagi keluarga, namun menyisakan kerinduan mendalam bagi Habibie.
“Anak-anak saya berhasil secara ekonomi. Mereka kaya raya, tapi hati saya tetap merasa hampa,” ungkapnya. Rumah yang penuh kenangan kini hanya dihiasi suara jam dinding, berdetak seolah menghitung waktu menuju akhir hayatnya.
Habibie mengakui bahwa waktu terasa bergerak lambat di usia senja. Kesepian menyelimuti, dengan punggung yang sakit, air liur yang sesekali menetes, dan pandangan yang semakin hampa. Di penghujung tulisannya, ia berpesan kepada pembaca:
“Barangkali lelaki renta itu adalah saya. Atau barangkali, suatu saat nanti, Anda yang membaca tulisan ini.”
Pesan penuh spiritualitas ini menggugah kita untuk merenungi nilai kehidupan, kebaikan, dan arti kebersamaan. Sebuah warisan kata-kata dari seorang pemimpin yang tidak hanya berkontribusi dalam teknologi, tetapi juga meninggalkan nilai-nilai luhur bagi kemanusiaan.
(Jacob Ereste)








