Banyuwangi – Ganeshaabadi.com | Rasa-rasanya, isu dugaan jual beli maupun intervensi “orang dalam” terhadap suatu proyek kegiatan yang bersumber dari APBD tak lekang oleh waktu. Tentunya, mereka yang duduk di pucuk rantai kekuasaan memiliki kans terbesar dalam mengatur permainan ini. Dengan catatan jika mereka mau.
Sayangnya, kabar tak sedap itu baru-baru ini juga melanda daerah ujung timur pulau jawa, kabupaten tercinta yang sarat akan penghargaan, Banyuwangi. Hal itu mencuat seiring dengan viral nya unggahan Gus Edi di media sosial. Bahkan dalam beberapa unggahannya Gus Edi yang kerap mengajak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun ke Banyuwangi siap menunjukkan titik-titik lokasi proyek kegiatan yang ia anggap fiktif. Selain itu, Gus Edi juga menyebut terdapat proyek kegiatan dengan fee mencapai 40%. (28/11/2023)
Ibarat temperatur, jika 40% dinisbatkan menjadi 40° celcius maka saat ini Pemkab Banyuwangi seperti dilanda kekeringan ekstrim ditengah musim penghujan, pikir saya.
Kembali lagi kepada peran “orang dalam”, dalam hal ini jika isu yang dihembuskan oleh Gus Edi itu benar adanya. Mereka bukan lagi sebagai pemain. Namun, sebagai _Lord of the creator_ atau setingkat di atas istilah _core of the core_, membawahi boneka-boneka sadis bertajuk sang eksekutor yang tak lain merupakan instrumen penting dalam permainan kanibalisme anggaran.
Hanya sebatas itu saja kah ? Atau mungkin ada yang berperan sebagai _tukang cebok_ ?. Atau istilah lain dari mereka yang bertugas membersihkan tangan dan kaki sang eksekutor dari lumuran bercak darah daging anggaran.
*Semua itu bisa saja terjadi, sekali lagi dengan syarat jika mereka mau*
Analisis di atas sah-sah saja jika diterapkan pada sebuah kegiatan pembangunan, bahwa telah terjadi praktik _gotong royong_ dalam indikator permainan kotor.
Dalam hal ini saya pun sempat berandai-andai apakah ada kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang? Namun, sebagai orang Banyuwangi yang cinta kepada Banyuwangi saya segera menampik fantasi liar itu.
Di usia saya yang menjelang setengah abad ini, tak henti-hentinya saya berdoa semoga ke depan Banyuwangi tidak hanya ijo royo-royo. Namun juga Banyuwangi dapat ijo bareng-bareng. Rofiq azmi,
(Team/Red)








