Badung, Bali — 9 Desember 2025. Situasi lesu terjadi di sejumlah kawasan wisata Bali, khususnya di area Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, tepatnya dekat Desak Massages Hut (Koordinat 8556+26M). Para pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan kondisi yang semakin sulit seiring menurunnya jumlah orderan harian.
Menurut pantauan langsung dan laporan lapangan, banyak ojol terlihat menunggu orderan masuk hingga hampir satu jam, jauh lebih lama dibandingkan hari-hari normal.
“Biasanya pukul 12 siang kami sudah bisa mengantongi sekitar 200 ribu rupiah. Tapi sekarang untuk mengejar 100 ribu saja sangat sulit,” ujar salah satu pengemudi ojol yang enggan disebutkan namanya.
Pendapatan Merosot, Ojol Terjepit Persaingan & Sepinya Wisatawan
Para pengemudi menduga anjloknya pendapatan dipicu oleh dua faktor utama:
- Persaingan jumlah pengemudi ojol yang semakin padat, terutama di kawasan wisata populer seperti Seminyak–Kuta.
- Menurunnya jumlah wisatawan asing (turis mancanegara) yang berdampak langsung pada permintaan layanan transportasi online.
Tidak hanya ojol yang terdampak. Sepinya tamu wisata juga telah memukul sektor-sektor lain seperti perhotelan, restoran, spa, dan layanan wisata lain di kawasan Seminyak.
Pelaku usaha lokal menyebut kondisi ini sudah terasa sejak beberapa minggu terakhir, namun puncaknya terjadi minggu ini, di mana tingkat hunian hotel dan kunjungan ke titik-titik wisata merosot signifikan.
Dampak Berantai ke Sektor Ekonomi Lokal
Penurunan aktivitas wisata ini menciptakan efek domino yang dirasakan berbagai pihak:
- Driver ojol kehilangan pendapatan harian.
- Hotel dan restoran mengalami penurunan okupansi dan kunjungan.
- Pelaku UMKM sekitar kawasan wisata merasakan penurunan transaksi.
Kondisi ini menandakan perlunya langkah cepat dari pemangku kebijakan, pelaku industri pariwisata, dan platform transportasi online untuk bersama-sama menciptakan solusi demi menjaga roda ekonomi Bali tetap bergerak.
Harapan Driver: Ada Evaluasi dan Kebijakan yang Lebih Berpihak
Para pengemudi berharap adanya:
- Pemerataan jumlah driver di zona-wilayah tertentu,
- Peningkatan promosi pariwisata,
- Kebijakan platform agar order dapat lebih merata,
- Dukungan bagi pelaku usaha kecil dan pekerja lapangan yang bergantung pada keramaian wisata.
“Kami hanya berharap kondisi kembali normal. Bali hidup dari wisata, kalau wisata sepi, semua ikut terdampak,” ujar salah satu pengemudi.
(Suko)








