Rabu, 24 September 2025.
Sebelum dzuhur, saya membuka YouTube. Di sana, seorang presiden berdiri di mimbar internasional, menyampaikan pidato yang menggugah nurani:
“It is with a heavy heart that we recall the ongoing, unbearable tragedy in Gaza. Thousands of innocent lives, many of them women and children, have been killed. Famine looms. Human catastrophe is unfolding with our eyes.”
Bahasa tubuhnya tenang. Suaranya mantap. Sorot matanya penuh keyakinan. Ia tidak sedang berbicara atas nama dirinya sendiri. Ia sedang menyuarakan hati 70% rakyatnya—rakyat yang ribuan kali turun ke jalan, berdiri di bawah terik matahari dan hujan, hanya demi satu harapan: Palestina merdeka.
Rakyatnya telah ribuan kali menggalang dana, mengirim doa, dan menyuarakan solidaritas. Kini presidennya berdiri di forum tertinggi dunia, membawa suara itu ke panggung yang lebih luas. Ia bukan sekadar pemimpin politik, ia adalah wakil nurani bangsanya.
Kenangan di Tanah Palestina
Saya teringat ketika pernah berziarah ke negeri kiblat pertama umat Islam. Untuk masuk ke Palestina, pemeriksaan berlangsung hampir enam jam—ketat, penuh kecurigaan. Di dalam, kami dikawal aparat bersenjata laras panjang.
Bahkan saat hendak shalat di Masjid Al-Aqsha, kami dijaga. Bukan demi keamanan kami, tetapi agar kami tidak melakukan kebaikan yang bisa menguntungkan rakyat Palestina. Kami hanya dianggap turis. Tidak lebih.
Setelah tiga hari di Palestina, perjalanan berlanjut ke Laut Mati. Airnya super asin, getir, dan perih di mata bila terkena. Rasanya seperti metafora dari penderitaan panjang yang menimpa rakyat Palestina—pedih, getir, dan tak kunjung usai.
Saat Ini Kita Punya Presiden
Menyaksikan pidato presiden itu, saya bergumam lirih:
“Saat ini kita punya presiden.”
Presiden yang tidak hanya mengurus APBN atau pembangunan infrastruktur. Presiden yang berani menyuarakan kemanusiaan. Presiden yang membawa suara hati rakyat Indonesia ke PBB.
Tentu, seperti biasa, negeri kita tidak pernah sepi dari pro dan kontra. Ada yang mendukung, ada yang mengkritik. Apalagi ketika presiden menyatakan bahwa Indonesia bersedia mengakui Israel jika Israel lebih dulu mengakui Palestina. Kalimat itu bisa ditafsirkan macam-macam. Tetapi niat baik memang tidak selalu mudah dipahami semua orang.
Doa untuk Jihad Diplomasi
Saya bukan ahli politik internasional. Yang bisa saya lakukan hanyalah membantu presiden dengan doa.
Semoga Allah Ta’ala menjaga beliau.
Semoga jihad diplomatiknya diterima sebagai amal saleh.
Semoga Palestina merdeka.
Semoga dunia kembali mengenal keadilan.
Hari ini, kita sudah punya presiden.
Presiden yang berani bersuara.
Presiden yang membawa nurani bangsanya ke panggung dunia.
Presiden ke-08.
Berdiri di mimbar internasional, pada sidang tahun ke-80.
Di saat yang sama, NKRI juga berusia 80 tahun.
Imam Mawardi Ridlwan
Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokat Pejuang Islam
(Red)








