Tulungagung, 13 September 2025 — Gedung Dakwah Abi KH. M. Ihya Ulumiddin pagi itu memancarkan keberkahan. Lebih dari sekadar ruang fisik, ia menjelma menjadi ruang spiritual, ruang intelektual, dan ruang berkumpulnya para ahlu Qur’an. Sebanyak 300 guru Al Azhaar Kedungwaru Tulungagung duduk bersila dalam suasana khidmat, mengikuti kegiatan penyegaran Metode Yanbu’a—sebuah pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang berasal dari Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus dan kini berkembang hingga Mojokerto.
🌿 Menyambung Sanad, Menyegarkan Semangat
Ketua Muroqobah Yanbu’a Kabupaten Tulungagung, Kyai Abdullah Hadirin, membuka acara dengan ucapan terima kasih atas kehadiran tokoh utama dalam kegiatan ini, Dr. KH. Muhammad Jauhari Nadzirun, dari Lajnah Muroqobah Yanbu’a Mojokerto. “Semoga penyegaran ini membawa berkah bagi kita semua,” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Azhaar, KH. Imam Mawardi Ridlwan, turut menyampaikan bahwa sanad metode Yanbu’a di Al Azhaar Kedungwaru tersambung secara langsung kepada KH. Aminuddin Ridlo, murid dari KH. Arwani Kudus, pendiri metode Yanbu’a. “Sanad ini adalah warisan keilmuan yang hidup, bukan sekadar silsilah,” ujarnya.
🧠 Guru Adalah Ruh Pendidikan
Dalam sesi utama, Gus Jauhari menegaskan bahwa keberhasilan metode bukan hanya terletak pada sistemnya, tetapi pada kualitas dan ketulusan sang guru. “Metode itu penting, tapi yang lebih penting adalah guru,” tegasnya.
Ia mengajak para guru untuk melepaskan beban masa lalu, menjaga semangat, istiqomah, dan ketelatenan dalam mengajar. Lebih dari itu, guru harus memahami karakter murid dan wali murid, serta mengajar dengan hati agar pesan suci Al-Qur’an benar-benar menyentuh hati para santri.
“Guru itu ruh. Maka mengajar harus dengan hati agar masuk ke hati murid. Inilah ketulusan dalam mengajar.” — Dr. KH. Muhammad Jauhari Nadzirun
(Red)








