Pandeglang — Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Banten Raya menggelar aksi demonstrasi di depan kampus mereka, Rabu (18/6/2025), sebagai bentuk penolakan terhadap program Studi Luar Kampus semester 4 yang dinilai tidak esensial, tidak transparan, dan membebani mahasiswa.
Aksi yang berlangsung di tengah hujan deras ini tetap berjalan damai dan mendapatkan pengawalan dari jajaran Polres Pandeglang. Massa aksi melakukan orasi, membentangkan poster kritis, hingga meletakkan almamater mereka di tanah sebagai simbol kekecewaan terhadap kebijakan kampus.
Koordinator aksi, Ahmad Hadi, menyampaikan bahwa program studi banding ke luar daerah hanya seremonial dan tidak berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas akademik. Ia menilai mahasiswa tidak dilibatkan dalam perencanaan, penganggaran, maupun pelaksanaan program.
“Kami diwajibkan membayar Rp1.950.000, namun tidak ada transparansi. Padahal, kegiatan bisa dilakukan di Banten agar tidak membebani ekonomi mahasiswa,” ujarnya.
Mereka juga menuding adanya indikasi ketertutupan penyelenggara dalam agenda dan pengelolaan keuangan. Mahasiswa menuntut agar Ketua STISIP segera mencabut SK program tersebut dan melibatkan mahasiswa dalam setiap proses kebijakan kampus.
Hingga sore, aksi belum direspons langsung oleh Ketua STISIP. Namun, Wakil Ketua I hadir dan menandatangani fakta integritas sebagai komitmen untuk menindaklanjuti tuntutan mahasiswa.
Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal isu ini hingga ada kebijakan konkret dan berpihak pada transparansi serta kesejahteraan mahasiswa.
(Red)








