Ganesha Abadi – Kesadaran dan minat baca masyarakat Indonesia kian menurun, disebabkan oleh arus deras aktivitas yang semakin cepat. Banyak pekerjaan kini berfokus pada layanan jasa, seperti pengantaran orang dan barang, yang berkembang pesat untuk mengurangi dampak dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dengan kemunculan ojek online, banyak yang mengandalkan pekerjaan sambilan ini untuk mengisi kekosongan setelah kehilangan pekerjaan tetap.
Namun, meski sejumlah orang berusaha bangkit dengan membuka usaha seperti warung makan dan minuman, mereka harus bersaing dalam pasar yang sangat ketat dengan daya beli masyarakat yang semakin lemah akibat kondisi ekonomi yang terus terpuruk. Pemerintah telah meluncurkan berbagai program bantuan untuk meringankan beban hidup, seperti subsidi makan, pendidikan, dan transportasi, yang sangat dihargai oleh masyarakat.
Namun, di tengah situasi ini, minat baca masyarakat semakin loyo. Pegiat media sosial di Indonesia lebih memilih untuk menyajikan informasi dalam bentuk visual, seperti gambar dan video singkat, yang lebih mudah dicerna oleh generasi milenial dan Z. Sayangnya, konsumsi informasi semacam ini tidak mendorong pemirsa untuk merenung atau berpikir kritis, sehingga menghambat perkembangan daya pikir bangsa.
Kemudahan dan hiburan melalui media sosial justru semakin memanjakan masyarakat, yang semakin enggan untuk membaca dan berpikir kritis. Akibatnya, kualitas manusia Indonesia pun terancam tertinggal dari bangsa lain yang semakin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Budaya Indonesia yang kaya dengan nilai-nilai spiritual dan budaya khas bangsa Timur semakin terdesak, tidak mampu bersaing dengan perkembangan peradaban global.
Bagi penulis yang tidak memiliki semangat juang, situasi ini akan semakin mempersulit mereka untuk bertahan, bahkan bisa terjerumus dalam keputusasaan. Budaya menulis di Indonesia pun semakin terancam mati, sementara mimpi untuk meraih penghargaan bergengsi seperti Nobel hanya akan tetap menjadi angan-angan. Dalam kondisi seperti ini, budaya intelektual Indonesia yang kian melemah tidak selaras dengan semangat kebangkitan bangsa untuk memimpin dunia.
(Jacob Ereste)








