Ganesha Abadi – Pelajar sudah hafal Pancasila. Setiap hari Senin ada upacara bendera dan membaca Pancasila. Fasilitas pendidikan semakin baik. Mereka juga sudah banyak menerima dana BOS dan KIP. Bahkan saat ini ada program MBG.
Sebelum terjadi Covid-19, kami punya kelompok kecil berinisiatif membuat pendidikan beradab. Di sekolah yang kami bina adab sebagai pilar utama mendidik. Namun di akhir Agustus 2025 ada ruang sunyi bagi pelajar Indonesia. Mudahnya pelajar masuk perangkat provokator. Tentu bagi kami ini sebuah peristiwa yang mengerikan.
Peristiwa pelajar merusak, dan menjarah apakah boleh disimpulkan karena sirna adab pelajar. Di masyarakat Indonesia tata krama. Etika. Prilaku yang diajarkan dan ditauladankan sebelum anak bisa membaca. Sesuatu yang dulu menjadi syarat sebelum ilmu ditanamkan.
Sekarang? Adab itu seperti daun tua di musim kemarau. Rapuh. Rontok. Terinjak tanpa rasa bersalah. Sosok oknum pelajar yang anarkis. Para guru saatnya merenung kembali. Karena kita, guru yang tidak ditauladani ataukah faktor lainnya?
Peristiwa di saat semua pelajar sibuk mendoakan para pahlawan bangsa. Tampak beberapa oknum pelajar yang mengabaikan hukum demi mengikuti nafsu provokator. Mereka menyepelekan proses demi hasil. Menginjak nalar demi ambisi. Tabiat yang demikian itu dulu disebut “akal bulus”, sekarang disebut “strategi”.
Dan yang lebih menyedihkan, tabiat itu disiarkan langsung secara live. Dipandu oleh para senior ke junior. Tampaknya lahir anak-anak pintar tapi tak tahu malu. Cerdas tapi tak tahu sopan. Berprestasi tapi tak tahu batas. Generasi anarkis.
Tulisan sederhana ini tidak sedang menghakimi. Hanya bermaksud mengingatkan saja. Ada pergeseran peradaban pelajar. Jika tidak segera diobati maka akan lahir sekolah gagal. Dikwatirkan tumbuh generasi cerdas namun culas.
*Lalu, apa langkah kita?*
Tentu saja bukan seminar. Bukan workshop. Bukan kurikulum baru yang diprogam menteri baru. Pembelajaran deep? Sementara adab sedang dead.
Jika boleh mengusukkan adalah ketauladan guru. Ketauladan orang tua. Keteladanan para pemimpin. Jadi pendidikan tidak hanya mengejar saja. Tapi adab yang dihasilkan dari ketauladan.
Semua proses pendidikan yang selalu memuliakan manusia. Yang menanamkan nilai. Yang menghidupkan nalar. Yang membangkitkan akal budi. Yang memupuk gairah belajar sepanjang hayat. Saya teringat prinsip guru saya yaitu “ngewongne uwong, ora gelakne uwong.”
Mungkin pendidikan yang berakar pada budaya. Berakal dari nilai-nilai agama. Yang menghargai keberagaman. Yang tidak memaksa seragam. Tapi merayakan perbedaan. Yaitu peradaban yang lahir dari rahim para pejuang bangsa, berdiri di depan. Untuk kemuliaan generasi Indonesia.
(Red)








