Buntok–Di tengah musim kemarau yang ditandai dengan kondisi tanah yang semakin kering dan kebutuhan air yang meningkat, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Buntok tetap konsisten menjalankan program ketahanan pangan. Meski hasil tanaman tomat yang dibudidayakan belum mencapai hasil maksimal, semangat untuk terus merawat dan mengembangkan tanaman produktif tetap menjadi bagian dari komitmen Rutan Buntok.
Program ketahanan pangan tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap Asta Cita Presiden, sekaligus menindaklanjuti program dan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan serta arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan dalam mendorong kemandirian dan ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri dalam proses budidaya. Kondisi tanah yang cepat kering membuat tanaman, khususnya tomat, membutuhkan perawatan ekstra dan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh dengan baik. Petugas dan warga binaan yang terlibat dalam kegiatan pembinaan kemandirian pun terus melakukan penyiraman dan pemeliharaan secara rutin.
Meskipun hasil panen sementara belum maksimal, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan proses budidaya. Justru, situasi ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pola perawatan, pengelolaan media tanam, hingga pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman.
Karutan Buntok, Febryanto, A.Md.IP., S.H., M.H., menyampaikan bahwa ketahanan pangan bukan hanya mengenai hasil yang diperoleh, tetapi juga tentang konsistensi dalam menjalankan proses dan memberikan pembinaan yang berkelanjutan.
“Memang hasil tanaman tomat kali ini belum maksimal karena kondisi kemarau dan tanah yang cepat kering. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap konsisten merawat dan melakukan evaluasi. Dengan perawatan yang lebih baik dan ketersediaan air yang cukup, kita berharap hasil ke depan dapat semakin optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ketahanan pangan juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan agar memiliki keterampilan yang dapat bermanfaat ketika kembali ke tengah masyarakat.
Perawatan tanaman di tengah musim kemarau menjadi bukti bahwa program ketahanan pangan membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan konsistensi. Setiap tanaman yang dirawat bukan semata-mata mengejar hasil panen, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan dan upaya membangun kemandirian. (Tim Redaksi)




