SUMENEP, 23 Agustus 2026 — Semangat kearifan lokal dan kebersamaan masyarakat Desa Daramesta, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, tampak begitu nyata dan hidup. Pada Minggu (23/8/2026), warga berkumpul meriah menyelenggarakan tradisi Ontur Kelap Deteng Apoy, di bawah naungan kelompok Sembilan Naga yang dipimpin langsung oleh Junaidi, S.Pd. selaku Ketua Panitia Pelaksana (PV) Sembilan Naga. Suasana kekeluargaan terasa hangat di tengah hamparan alam asri dengan ketinggian 179,8 mdpl.
📍 IDENTITAS KEGIATAN
– Lokasi: Desa Daramesta, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur
Waktu: Minggu, 23 Agustus 2026, pukul 16.08 WIB
– Ketinggian: 179,8 meter di atas permukaan laut
– Ketua Panitia Pelaksana (PV): Junaidi, S.Pd. — Ketua PV Sembilan Naga
– Inisiator/Penyelenggara: PBT Daramesta & Kelompok Sembilan Naga
– Kegiatan: Ontur Kelap Deteng Apoy
🎤 JUNAIDI, S.PD.: PENDIDIK YANG MENGGERAKKAN TRADISI
Sebagai seorang pendidik dan tokoh masyarakat, Junaidi, S.Pd. yang menjabat sebagai Ketua PV Sembilan Naga, memimpin langsung jalannya kegiatan ini dengan penuh tanggung jawab dan semangat. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Ontur Kelap Deteng Apoy bukan sekadar ajang hiburan, melainkan wadah pendidikan karakter dan pelestarian budaya bagi generasi muda Daramesta.
“Sebagai pendidik, saya paham bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas. Tradisi seperti Ontur Kelap Deteng Apoy ini adalah sekolah kehidupan — tempat anak-anak belajar gotong royong, menghargai sesama, dan mencintai warisan leluhur. Sembilan Naga hadir untuk menjaga api persaudaraan ini tetap menyala di hati setiap warga Daramesta.” — Junaidi, S.Pd., Ketua PV Sembilan Naga
Kepemimpinan Junaidi, S.Pd. membuktikan bahwa sinergi antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Dengan latar belakang sebagai tenaga pengajar, beliau mampu mengemas kegiatan tradisional ini menjadi sarana pembinaan karakter yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat — dari anak-anak hingga orang tua.
KEGIATAN: ONTUR KELAP DETENG APOY
Spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang — Ontur Kelap Deteng Apoy” berdiri gagah di tengah lokasi terbuka. Warga dari berbagai usia berkumpul dengan sukarela: ada yang duduk melingkar, ada yang berdiri menyaksikan, anak-anak pun tampak antusias mengikuti jalannya acara. Semua bergerak dalam satu irama kebersamaan yang dipimpin oleh Junaidi, S.Pd. dan jajaran Sembilan Naga.
Kegiatan ini lahir dari kesadaran murni warga — tanpa menunggu arahan dari luar — membuktikan bahwa masyarakat Daramesta memiliki kemandirian dan kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian budaya.
MAKNA & NILAI YANG DIUSUNG
Melalui kepemimpinan Junaidi, S.Pd., Sembilan Naga dan PBT Daramesta menegaskan bahwa tradisi ini mengandung nilai-nilai luhur:
Pendidikan Karakter: Mengajarkan kedisiplinan, kerja sama, dan rasa tanggung jawab sejak dini
Pelestarian Budaya: Menjaga warisan leluhur agar tidak hilang tergerus zaman
Persatuan Warga: Menyatukan masyarakat tanpa sekat status sosial — semua adalah saudara
Kemandirian Masyarakat: Membuktikan bahwa warga mampu bergerak dan berkarya atas inisiatif sendiri
Regenerasi Budaya: Melibatkan anak-anak agar tradisi ini terus hidup di masa depan
DOKUMENTASI KEGIATAN
Dokumentasi kegiatan menunjukkan:
Spanduk kegiatan “Ontur Kelap Deteng Apoy — Sembilan Naga” terpasang gagah di tengah lokasi
Warga berkumpul dengan penuh semangat, suasana akrab dan hangat terasa nyata
Latar belakang perbukitan hijau dan pemandangan luas menambah keindahan acara
– Anak-anak turut hadir dan berpartisipasi tanda penerus sudah siap menjaga tradisi
– Kepemimpinan Junaidi, S.Pd. terasa menyatu dengan seluruh elemen masyarakat
📢 PENUTUP
Kegiatan Ontur Kelap Deteng Apoy yang digelar PBT Daramesta bersama Kelompok Sembilan Naga di bawah kepemimpinan Junaidi, S.Pd. menjadi bukti nyata bahwa di desa-desa Sumenep masih menyemai semangat gotong royong, cinta budaya, dan kepedulian antarwarga. Seorang pendidik yang juga tokoh masyarakat membuktikan bahwa kepemimpinan yang tulus mampu menyatukan banyak orang untuk tujuan mulia: menjaga persaudaraan dan melestarikan identitas bangsa.
“Sembilan Naga bukan sekadar nama, melainkan semangat — semangat persaudaraan yang tak terputus, seperti naga yang tak pernah patah ekornya.”
(Yadi/ Red)


