Banyuwangi – Ketua Aliansi Pemuda Peduli Masyarakat (APPM), Rofiq Azmi, mengusulkan agar Badan Gizi Nasional (BGN) menyediakan fitur atau tombol pengunduran diri secara mandiri bagi masyarakat yang terdaftar sebagai penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun merasa sudah tidak lagi membutuhkan bantuan tersebut.
Menurut Rofiq, keberadaan mekanisme pengunduran diri secara sukarela merupakan bentuk penghormatan terhadap hak warga negara untuk menentukan apakah dirinya masih layak menerima manfaat program pemerintah atau justru memilih memberikan kesempatan kepada masyarakat lain yang lebih membutuhkan.
“Saya masih sanggup dan mampu memberi makan bergizi pada anak dan istri saya. Karena itu, saya ingin mengundurkan diri sebagai penerima MBG agar anggaran negara bisa dialihkan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan,” ujar Rofiq.
Ia menilai, hingga saat ini belum tersedia mekanisme yang mudah bagi masyarakat yang ingin keluar dari daftar penerima manfaat secara sukarela. Padahal, menurutnya, tidak sedikit warga yang memiliki kesadaran untuk tidak membebani keuangan negara apabila kondisi ekonominya telah mencukupi.
Rofiq menegaskan bahwa usul tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap program MBG secara keseluruhan, melainkan dorongan agar pelaksanaannya semakin tepat sasaran dan memberikan ruang bagi partisipasi masyarakat dalam menjaga efektivitas penggunaan anggaran negara.
“Kalau ada tombol atau fitur pengunduran diri mandiri, masyarakat yang merasa mampu bisa keluar tanpa harus menunggu proses administrasi yang rumit. Ini juga akan menjadi bentuk gotong royong dan tanggung jawab sosial,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia berharap BGN dapat mengembangkan sistem digital yang memungkinkan masyarakat memperbarui status kepesertaan secara berkala, termasuk memilih keluar dari program apabila kondisi ekonomi keluarganya telah membaik.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya meningkatkan akurasi data penerima manfaat, tetapi juga berpotensi mengurangi beban anggaran negara serta memastikan bantuan benar-benar diterima oleh kelompok yang paling membutuhkan.
Di akhir keterangannya, Rofiq mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi memadai untuk memiliki kesadaran yang sama.
“Kalau kita masih mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga sendiri, mari berikan kesempatan kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Semakin tepat sasaran sebuah program, semakin besar manfaatnya bagi masyarakat.”
Usulan tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi BGN dalam penyempurnaan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis, khususnya terkait mekanisme pembaruan data dan pengunduran diri penerima manfaat secara sukarela.








