PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Peristiwa yang melibatkan Khairun Nisya, perempuan 23 tahun asal Palembang, Sumatera Selatan, bukan sekadar kisah viral tentang penyamaran pramugari. Lebih dari itu, publik melihatnya sebagai potret tekanan sosial, luka batin anak muda, dan kerinduan sederhana seorang anak untuk membanggakan kedua orang tuanya.
Khairun Nisya diketahui sempat mengikuti seleksi pramugari Batik Air, namun dinyatakan tidak lolos. Kegagalan tersebut tidak ia sampaikan secara jujur kepada keluarga. Rasa takut mengecewakan orang tua mendorongnya mengambil keputusan keliru dengan mengenakan atribut pramugari yang dibeli melalui toko daring.
Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, menjelaskan bahwa motif perbuatan Nisya bukanlah kejahatan.
“Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya,” ujar Kompol Yandri.
Secara administratif, Nisya membeli tiket pesawat sebagai penumpang pada penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta. Namun penampilannya membuatnya disangka sebagai awak kabin tambahan hingga akhirnya terungkap saat dilakukan pemeriksaan oleh petugas bandara.
Pihak kepolisian memastikan tidak ditemukan unsur tindak pidana. Batik Air juga memilih langkah persuasif dan humanis dengan tidak melakukan penuntutan. Seluruh atribut maskapai yang dikenakan Nisya telah disita, dan yang bersangkutan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Kasus ini kemudian viral di media sosial pada Selasa, 7 Januari 2026. Empat foto yang beredar memperlihatkan sosok Nisya dengan seragam pramugari lengkap. Unggahan tersebut memicu berbagai reaksi publik, mulai dari kritik hingga empati.
Setelah identitasnya terungkap sebagai Khairun Nisya, warga Muara Kuang, Sumatera Selatan, warganet justru banyak menyuarakan simpati. Dalam video klarifikasi yang beredar, Nisya menyampaikan permohonan maaf kepada Batik Air dan Lion Group serta mengakui bahwa dirinya bukan pramugari.
Harapan Publik: Jangan Hukum Mimpinya
Di tengah sorotan publik, muncul satu suara dominan: harapan. Banyak pihak menilai bahwa yang perlu dikoreksi bukan mimpinya, melainkan caranya. Nisya dianggap telah salah melangkah, namun tidak salah bermimpi.
Publik berharap Khairun Nisya tidak berhenti mengejar cita-citanya. Justru dari peristiwa ini, ia diharapkan mampu bangkit, memperbaiki diri, dan suatu hari benar-benar menjadi pramugari sungguhan, bukan dengan seragam pinjaman, melainkan dengan kelulusan resmi dan kerja keras yang jujur.
Harapan itu sederhana namun bermakna:
agar suatu saat ia bisa membanggakan kedua orang tuanya dengan cara yang benar, terhormat, dan bermartabat.
Menanggapi fenomena tersebut, Erwin, Kepala Perwakilan Wilayah Sumatera Selatan (Lubuklinggau, Musi Rawas Utara), menilai kasus ini sebagai refleksi tekanan psikologis generasi muda.
“Ini bukan soal benar atau salah semata. Ini gambaran beratnya beban sosial. Banyak anak muda takut gagal, takut dianggap tidak berhasil, padahal proses hidup memang tidak selalu lurus,” ujarnya.
Kasus Khairun Nisya menjadi pengingat bahwa kegagalan bukanlah aib, dan kejujuran tetap lebih mulia daripada pencitraan. Di balik kisah ini, tersisa satu doa yang diam-diam tumbuh di tengah publik:
semoga Khairun Nisya kelak benar-benar terbang sebagai pramugari sungguhan, bukan untuk viral, tetapi untuk membanggakan kedua orang tuanya.
(Erwin, Kepala Perwakilan Media Nasional Ganesha Ganesha Abadi Wilayah Sumatera Selatan (Lubuklinggau, Musi Rawas Utara)








