Empat Lawang, Sumatera Selatan – Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Empat Lawang yang digelar Senin (13/10/2025) seharusnya menjadi momen penting bagi jalannya roda pemerintahan daerah, terutama dalam agenda pengambilan sumpah PAW. Namun, suasana sidang justru diwarnai pemandangan memprihatinkan — deretan kursi kosong yang menandakan absennya enam anggota dewan dari total 34 orang.
Kehadiran hanya 28 anggota membuat publik bertanya-tanya: ke mana para wakil rakyat yang digaji dari uang rakyat itu?
Ironisnya, saat pelantikan dulu, semua berebut kursi depan. Kini, kursi justru berebut udara — kosong, sepi, tanpa suara tanggung jawab.
Dulu, saat masa kampanye, mereka rela masuk dapur rakyat, menebar janji dan senyum, berjabat tangan hingga keringat bercucuran. Tapi setelah duduk di kursi empuk hasil suara rakyat, banyak yang justru menghilang tanpa kabar.
Lebih menyakitkan lagi, gaji mereka tetap mengalir setiap bulan — berasal dari pajak rakyat, dari pedagang kecil di pasar hingga tukang ojek yang panas-panasan mencari nafkah. Namun para penerima gaji itu justru tak hadir rapat, tak bekerja, dan tampaknya tak malu.
Jika rakyat malas, bantuannya bisa dicabut. Tapi kalau dewan malas, disebut “sedang sibuk.” Sibuk apa? Sibuk mengatur strategi politik lima tahun ke depan, atau sibuk menghitung sisa masa jabatan?
Menariknya, Ketua DPRD Empat Lawang, Darli, masih memilih jalur santun.
“Mudah-mudahan ke depan bisa lebih aktif. Kalau belum juga aktif, akan segera kita panggil melalui Dewan Kehormatan di DPRD Empat Lawang,” ujarnya.
Namun bagi sebagian masyarakat, kesantunan itu mulai terasa hambar. Mereka menilai, sudah saatnya tindakan tegas diambil terhadap para anggota dewan yang absen tanpa alasan jelas.
Rakyat Empat Lawang bukan lupa, hanya sabar. Tapi kesabaran itu punya batas. Jika terus berulang, nama-nama para “anggota misterius” ini akan menjadi catatan publik — diingat sebagai mereka yang semangat saat kampanye, namun hilang saat rakyat menunggu kerja nyata.
Sudah saatnya para wakil rakyat belajar malu. Karena gaji yang mereka terima bukan dari langit, melainkan dari keringat rakyat yang berharap perubahan.
(Erwin – Kaperwil Sumsel Lubuklinggau Musi Rawas Utara)








