Jumat bakda Asar, 26 September 2025, di tengah perjalanan menuju Parang Magetan, kabar itu kembali menyeruak. Sebuah video memperlihatkan seorang pejabat negara menangis. Tangisan bukan sekadar air mata, melainkan duka mendalam: terulang lagi kasus keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dari hati saya yang terdalam saya mohon maaf, atas nama BGN, atas nama seluruh SPPG di Indonesia. Saya seorang ibu, melihat gambar-gambar di video, sedih hati saya,” ujar Mbak Nanik S. Dayeng, Wakil Kepala BGN.
Tangisan itu mewakili keresahan jutaan orang tua. MBG yang seharusnya menjadi berkah, justru menorehkan luka. Di beberapa daerah, orang tua mulai melarang anak-anaknya ikut makan. Trauma perlahan tumbuh. Akankah trauma ini menjadi luka nasional?
Beban Dapur, Beban Amanah
Program MBG mengandalkan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Relawan bekerja sejak tengah malam untuk menyiapkan ribuan porsi. Ada yang terlatih, ada yang terburu-buru. Beban 3.500 porsi tidak seimbang dengan bekal pelatihan hanya tiga bulan.
Kontaminasi mudah terjadi: waktu masak terlalu lama, penyimpanan tidak ideal, pembagian tugas tak teratur. Di titik inilah nyawa anak-anak dipertaruhkan. Ada relawan yang berkhidmat tulus, namun ada pula yang abai. Kelalaian kecil berujung fatal.
Oknum dan Manipulasi
Tak hanya soal dapur. Ada oknum yang bermain angka. Data dimanipulasi, menu dipangkas, asupan jadi minimalis. Media memberitakan secara hiperbola, heboh pun meluas.
Di sisi lain, ada contoh baik. SPPG Tulungagung misalnya, mampu melayani 3.500 porsi tanpa masalah. Kuncinya ada pada disiplin waktu, pembagian tugas yang rapi, serta kesadaran bahwa makanan bukan sekadar nasi dan lauk, melainkan amanah.
Jalan Keluar: Sistem, Bukan Sekadar Niat
Para pakar sepakat, MBG tidak perlu ditutup. Yang bermasalah saja yang harus dievaluasi bahkan dihentikan. Alternatifnya: libatkan kantin sekolah, koperasi pesantren, atau dapur masyarakat yang terbiasa melayani anak-anak.
BGN tetap bisa mengawal standar gizi, melakukan pengawasan, dan evaluasi. Menu dirancang bersama ahli gizi, sementara tata kelola keuangan harus transparan di tingkat kecamatan.
Lebih dari Sekadar Makan
MBG adalah niat tulus Presiden Prabowo untuk anak-anak Indonesia. Tetapi niat baik saja tidak cukup. Harus ada sistem, pelatihan, pengawasan—dan doa. Karena anak-anak tidak hanya butuh makan, mereka juga butuh rasa aman.
Rasa aman lahir dari dapur yang bersih, relawan yang tulus, komunikasi yang jujur, dan doa yang mengiringi setiap suapan. Semoga MBG tidak berakhir sebagai trauma, melainkan tumbuh menjadi teladan pelayanan gizi yang amanah, khidmat, dan penuh cinta.
(Red)








