Gresik – Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Fajar Trilaksana (YLBH FT), Andi Fajar Yulianto, menyoroti maraknya kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Menurutnya, kondisi ini menimbulkan kegamangan bagi para orang tua yang anaknya menjadi penerima program dari Presiden RI tersebut.
“Kasus keracunan ini semakin meresahkan dan harus menjadi perhatian serius. Orang tua tentu was-was jika anaknya justru menjadi korban dari program yang seharusnya menyehatkan,” kata Andi Fajar saat ditemui awak media, Sabtu (27/9/2025).
Data Kasus Keracunan MBG
Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) per 24 September 2025, tercatat 6.452 kasus keracunan akibat MBG. Sementara Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat 5.080 orang menjadi korban keracunan hingga 17 September 2025.
Insiden tersebut diduga dipicu berbagai faktor, mulai dari higienitas makanan, suhu dan cara pengolahan yang tidak sesuai standar, kontaminasi silang, hingga sensitivitas alergi pada penerima manfaat.
Perlunya Peran Aparat Penegak Hukum
Andi Fajar menegaskan bahwa upaya mitigasi tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, melainkan harus melibatkan aparat penegak hukum. Ia menyarankan agar Polres di tiap daerah ikut melakukan inspeksi secara periodik bersama Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
“Polres harus turut andil dalam melakukan inspeksi dan pengecekan secara berkala untuk memastikan kualitas pangan aman. Bahkan kompetensi para koki MBG pun perlu diperiksa, termasuk kepatuhan menu terhadap RAB yang tersedia,” tegasnya.
Potensi Pelanggaran Hukum
Menurutnya, kasus keracunan yang terjadi bukan sekadar kelalaian, melainkan bisa termasuk perbuatan melawan hukum apabila SOP tidak dijalankan dengan benar.
“Jika ada unsur kesengajaan melewati SOP, maka harus diusut dan ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum,” jelas Andi Fajar.
Evaluasi Program MBG
Ia menambahkan, jika pelaksanaan MBG terus menghadirkan risiko tinggi, maka pemerintah perlu meninjau ulang skema bantuan. Alternatif model bantuan lain yang lebih tepat sasaran bisa dipertimbangkan agar tidak menimbulkan masalah baru.
“Yang jelas, apapun alasannya, program MBG harus benar-benar dijaga. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban dari kecerobohan dan kelalaian pengelola dapur MBG,” tegasnya.
Lebih jauh, Andi Fajar menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan secara menyeluruh agar kualitas pangan benar-benar terjamin hingga sampai ke rakyat.
(Redho)








