Di tengah riuhnya tugas pelayanan gizi, ada sekelompok insan yang memilih jalan sunyi: menata hati sebelum menata dapur. Kamis malam, 25 September 2025, Dusun Kalipang di Desa German, Sugio, Lamongan, menjadi saksi sebuah ikhtiar spiritual yang tak biasa. Di sana, para pelayan gizi berkumpul bukan untuk menyusun menu, tapi untuk bersholawat dan beristighosah.
Pesan singkat dari Mas Eko Setiawan, mitra BGN Kalipang, sehari sebelumnya menjadi pemantik: “Bah, besuk malam rutinan. Semoga tidak lupa.” Meski sedang di luar kota, hati ini mantap untuk hadlir. Karena Kalipang bukan sekadar dusun kecil—ia adalah titik nyala semangat besar.
Saya datang bersama Mas Ali dari Jetis, Mojokerto. Tanpa membawa logistik, hanya membawa semangat khidmat. Di dapur SPPG Kalipang, kami duduk bersila bersama Kasatpel, ahli gizi, akuntan, dan para relawan. Dipimpin KH. Tukin, pengasuh pesantren, kami membaca sholawat, istighosah, dan doa perlindungan. Bukan untuk diri sendiri, tapi untuk anak-anak bangsa. Untuk generasi yang mereka layani lewat sepiring gizi.
Mas Eko menyampaikan dengan penuh harap, “Rekan-rekan SPPG kita ajak istighosah bersama masyarakat. Memohon perlindungan dan keselamatan serta kelancaran.” Di hadapan saya dan Danramil Sugio, ia menegaskan bahwa spiritualitas adalah fondasi pelayanan.
Saya tahu betapa beratnya tugas tim SPPG. Menyiapkan gizi untuk ribuan anak, di tengah tekanan SOP, sorotan publik, dan ancaman kasus keracunan. Maka bersholawat dan istighosah bukanlah pelarian. Ia adalah solusi. Solusi untuk kelelahan jiwa. Obat atas rutinitas yang menjemukan.
Ini bukan sekadar ritual. Ini adalah ikhtiar menata ulang niat. Menghidupkan kembali ruh khidmat. Karena jika hanya mengandalkan skill, mereka bisa lelah. Tapi jika sadar bahwa ini ibadah, mereka akan menjaga amanah dengan kesadaran yang tumbuh dari dalam.
Mereka tak lagi berkhidmat atas dasar program. Mereka berkhidmat untuk anak-anak bangsa. Untuk generasi yang harus tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak. Dan semua itu dimulai dari satu hal: bersholawat dan istighosah.
Mitra BGN memahami itu. Mereka tidak hanya fasilitasi teknis. Mereka fasilitasi ruhani. Mereka hadir bukan sebagai pengarah, tapi sebagai penyala. Mereka datangkan ustadz, sediakan waktu, buka ruang. Tidak menggurui, tapi menghidupkan. Karena mereka tahu: keberhasilan program bukan soal SOP, tapi soal jiwa para pelaksananya.
Saat ramah tamah, Mas Eko berkisah dengan tulus, “Saya mohon pada Kasatpel, ahli gizi dan akuntan untuk membelanjakan semua anggaran dana untuk anak. Tidak boleh dipotong. Sajikan asupan makanan yang terbaik. Jika anggaran dana kurang, saya akan menambahi dana.”
Kalimat itu bukan sekadar komitmen. Ia adalah cermin dari ruh pelayanan yang tulus. Bahwa di balik angka dan laporan, ada cinta yang bekerja. Ada doa yang menyertai. Ada jiwa yang menata niat, agar setiap butir nasi yang tersaji menjadi ladang pahala dan jalan keberkahan.
Imam Mawardi Ridwan
Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Azhaar Indonesia







