Ganesha Abadi – Korupsi administrasi sering dianggap lebih aman dibandingkan dengan korupsi konvensional, seperti penyelewengan anggaran atau mark-up proyek. Meskipun tidak secara langsung merugikan negara, korupsi administrasi tetap membawa dampak merugikan, seperti dalam pemberian kemudahan sertifikat yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, seperti kasus yang terjadi di kawasan Laut Utara Jakarta hingga Laut Tangerang, Banten, terkait dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) PIK-2.
Korupsi administrasi seringkali dilakukan dengan imbalan yang menggiurkan, lebih besar bahkan daripada hasil korupsi konvensional. Salah satu contohnya adalah pemberian kemudahan dalam kenaikan pangkat, jabatan, atau pendidikan, di mana individu yang tidak memenuhi persyaratan justru diberi jalan pintas dengan cara yang tidak profesional. Kasus-kasus seperti ini juga sering ditemukan di dunia pendidikan, di mana rektor atau dosen terlibat dalam praktik korupsi administratif.
Fenomena korupsi administratif juga merambah ke sektor hukum, seperti yang terlihat dalam pembahasan draf hukum pesanan yang seringkali telah “dijon” sebelum diterapkan, menyerupai praktik jual beli hasil panen yang belum dipetik. Praktik semacam ini juga terlihat di ruang pengadilan, bahkan di lembaga pemasyarakatan, di mana narapidana dapat mengendalikan bisnis mereka dari balik jeruji besi.
Korupsi di Indonesia seakan telah menjadi budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Keinginan untuk cepat kaya dan hidup mewah sering kali mengalahkan prinsip dasar etika, moral, dan akhlak yang sejatinya merupakan fitrah kemanusiaan sebagai khalifah di bumi. Korupsi tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dapat melibatkan keluarga terdekat, yang dengan bangga memperlihatkan kekayaan yang didapat secara tidak sah.
Sri Eko Sriyanto Galgendu, Pemimpin Spiritual Nusantara, terus berjuang untuk membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia agar kembali kepada prinsip-prinsip mulia dalam membangun peradaban dunia. Melalui gerakan kebangkitan ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi contoh bagi dunia dalam membangun peradaban yang lebih baik dan lebih adil.
(Jacob Ereste)








