KULON PROGO — Kepergian (alm) KH. Shirojan Muniro Abdurrahman pada Hati Selasa (7/5) menjadikan para santri generasi pertama bercermin khidmad penuh totalitas. Salah satunya ialah Zainal yang hingga saat ini menunjukkan bahwa dirinya diamanahi menjadi ketua santri serta menjadi tukang batu dan tukang kayu untuk pesantren yang membutuhkan bantuan tenaga.
Zainal menanyakan, “Saya bersama bolo-bolo para santri generasi pertama pernah tugas membantu tenaga untuk pembangunan pesantren beberapa daerah di antara nya Jakarta, Bojonegoro, Surabaya, Pujon Malang, Tulungagung dan beberapa lainnya. Dengan waktu rata-rata paling cepat dua bulan atau tiga bulan. Kami di didik untuk ikhlas, semangat kerja keras dan belajar ilmu agama saat bertugas,terkadang,dalam kondisi sakit juga tetap menjalankan tugas di pesantren yang almarhum KH Shirujan muniro Abdurrahman pilih,” Papar Zainal,
Menurut zainal, “Tugas tukang sering kami kerjakan lembur agar cepat selesai. Pesan terpenting ke kami adalah tidak boleh meminta bayaran. Pokoknya kami dilatih berkhidmat total.
Apa yang telah Zainal paparkan dibenarkan oleh ketua alumni santri Nurul Haromain Taruban Sentolo Kulon Progo, KH Abdullah Salam.
“Khidmad Abah Yai Shirojan tidak hanya terkait penugasan tenaga kuli dan tukang, namun almarhum juga menguasakan dana untuk santri yang kekurangan bekal mondok. saat itu belum punya sepeda motor maka beliau dengan mengayuh sepeda ontel untuk silaturrahim pada donatur. Pesan Almarhum,jangan ada santri gagal mondok karena kekurangan bekal. Maka pesan tersebut akan terus kami jaga sebagai amanah, almarhum memberi kan ke saya sebagai kodim program yang mulia tersebut,”ujar KH abdullah salam
Lebih lanjut”Almarhum mengikat para alumni dari berbagai pesantren diajak kumpul setiap Rabu Legi. para alumni santri dari berbagai pesantren diajak ngaji Kitab Hikam. Amanah almarhum tidak boleh libur. Berapapun yang hadir tetap ngaji setiap di hari Rabu Legi,” jelas Kyai Salam.
Kyai Salam yang sehari-hari mengasuh Pondok Pesantren Nurul Dholam dan pengurus PC NU Kabupaten Kulon Progo menuturkan bahwa saat Abah Yai Shirojan sakit sepekan lalu, tepatnya hari Ahad masuk rumah sakit telah menyampaikan Selasa yang akan dateng Abah Yai Shirojan akan berkumpul dengan guru beliau Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani Mekkah.
“Abah Yai Shirojan menuturkan akan berkumpul guru almarhum pada hari Selasa, maka saat tiba hari Selasa saya cemas. Dan betul pada Selasa (07/05 /2024) almarhum wafat,” tutur Yai Salam sambil meneteskan air mata.
Khidmad totalitas almarhum Yai Shirojan juga dikisahkan para petakziyah yang menyaksikan kiprah dakwah almarhum di darahnya dan daerah pegunungan yang membutuhkan bimbingan agama. Abah Yai Shirojan telah menyelesaikan tugas dunia dengan indah.
“Abah Yai Shirojan saat usia enam puluh tahun bertekad menghafal Al Qur’an. Selama satu tahun almarhum dapat menuntaskan hafalan Al Qur’an Nya,” tutup Yai Salam.
Suatu karomah beliau pertama umur 60 tahun bisa menghafal kan Alquran sampai khatam, Kedua ketika dimandikan saya menyaksikan wajah beliau tersenyum.Ketiga Badan Beliau tidak kaku, tetep lentur seperti masih hidup.Ke empat firasat Beliau sangat tajam,
“saya pernah sowan ke beliau, mengajak teman yang punya bisnis ,beliau dawuh sama saya jangan bergabung karena tidak meyakinkan, saya jawab “njih mbah,, tidak lama kemudian teman yang saya ajak sowan kena masalah, Masyaallah saya bersyukur untung tidak jadi ikut gabung,”tutupnya,
(Her/Red)








