Di balik nama unik tersebut, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan kedatangan orang Skotlandia ke tanah Jawa pada masa kolonial Belanda.
Berdasarkan riset sejarah yang dilakukan Arif Firmansyah dan M. Iqbal Fardian, asal-usul Glenmore berkaitan dengan kebijakan politik etis Belanda pada awal abad ke-20 yang membuka peluang bagi investor asing untuk mengembangkan perkebunan di Hindia Belanda.
Salah satu investor yang datang disebut bernama Ros Taylor, seorang bangsawan asal Skotlandia. Ia kemudian membuka perkebunan di wilayah Banyuwangi dan menyebut kawasan tersebut sebagai Glenmore Estate. Nama Glenmore sendiri berasal dari bahasa Gaelic, bahasa Skotlandia kuno, yang memiliki arti “Big Glen”, merujuk pada kawasan lembah atau perbukitan yang luas.
Jejak sejarah tersebut kemudian ditelusuri selama bertahun-tahun melalui berbagai sumber, termasuk arsip Perpustakaan Nasional RI, perpustakaan di Belanda, hingga wawancara dengan sejumlah saksi hidup. Hasil penelitian itu kemudian dituangkan dalam buku “Glenmore: Sepetak Eropa di Tanah Jawa” yang diterbitkan pada 2019.
Kini, nama Glenmore bukan sekadar nama kecamatan di Banyuwangi. Nama tersebut menjadi salah satu jejak sejarah yang menunjukkan bahwa kawasan perkebunan di kaki Gunung Raung pernah bersinggungan dengan sejarah dan kehadiran orang-orang dari Skotlandia.
(Tim Redaksi)






